By | 17 September 2018
Salah satu anggota Tata Surya yang paling banyak menarik perhatian adalah Planet Saturnus dengan cincin nya yang menawan. Cincin ini telah terlihat oleh manusia lebih dari 400 tahun yang lalu, dan para ilmuwan akhirnya bisa cincin ini dari dekat saat pesawat ruang angkasa Pioneer dan Voyager diterbangkan ke planet ini pada tahun 1970an dan 1980an.
Kini, NASA dan European Space Agency memiliki pesawat ruang angkasa yang mengorbit bernama Cassini di Saturnus. Cassini telah berada di sana sejak tahun 2004 dan akan berlangsung hingga September 2017.
Berikut adalah beberapa misteri yang masih ada di Saturnus, menurut ilmuwan proyek Cassini, Scott Edgington, yang berbasis di Laboratorium Propulsi Jet NASA di Pasadena, California.
1. Berapa lama Satu hari di Saturnus?
Setelah lebih dari satu dekade berada di Saturnus, Cassini masih belum mengungkap salah satu sifat dasar Saturnus, yakni berapa lama waktu yang dibutuhkan dalam 1 hari.
Pada awalnya, para ilmuwan berpikir bahwa mereka dapat menentukan panjang gelombang radio yang dipancarkan oleh planet ini, seperti yang terjadi di Jupiter. Jupiter mengirimkan gelombang radio yang sinkron dengan rotasi planet ,namun emisi Saturnus, yang disebut radiasi relatif Saturn ini ternyata tidak melakukan hal yang sama.
Pada tahun 2011, NASA mengatakan variasi dalam periode gelombang radio kemungkinan berasal dari perubahan pada angin dataran tinggi di kedua belahan otak. Hal ini membuat masih belum diketahui berapa hari di Saturnus.
2. Berapa massa cincin Saturnus?
Memahami berapa massa dari planet ini akan memberi banyak tahu para ilmuwan tentang berapa umurnya dan bagaimana bentuknya. Tetapi untuk membuat pengukuran yang tepat dari massa sistem cincinnya, para peneliti perlu mengetahui lebih banyak tentang gravitasi Saturnus dan tentang kerapatan cincin.
Data yang dikumpulkan saat terjun Cassini ke atmosfer Saturnus akan membantu ilmuwan untuk menjawab pertanyaan lama ini.
3. Apakah Badai di Saturnus mampu merubah iklim?
Badai di Bumi mampu menyapu kota beserta isi-isinya dengan segala kerusakan dan dampaknya bisa memakan waktu berhari-hari. Siapa sangka, badai yang terjadi di Saturnus bisa lebih parah dari Bumi.
Di Saturnus, badai petir yang besar lengkap dengan kilat dan angin kencang bisa menyelimuti area planet ini seluas Bumi. Bahkan, badai Saturnus bisa bertahan hingga berbulan-bulan. Jauh lebih parah dari badai terburuk yang ada di Bumi.
Hal inilah yang kemudian membuat para peneliti dari dari California Institute of Technology penasaran, mereka coba mencari apa penyebat badai yang maha dahsyat itu.
Dalam studi baru yang dipublikasikan di jurnal Nature Geoscience, mereke menemukan bahwa badai ini terbentuk akibat pemindahan gas panas dari air di dalam atmosfer Saturnus.
Pemindahan gas panas juga sebetulnya berperan dalam terciptanya badai Bumi. Namun saat ini para ilmuwan masih belum bisa menjawab, apakah badai dahsyat di saturnus ini akan mempengaruhi iklim planet ini.
4. Berapakah rasio helium-hidrogen di  atmosfer Saturnus?
Helium dan hidrogen adalah dua unsur paling melimpah di alam semesta, dan juga di tata surya kita sendiri. Dua unsur inilah yang pada dasarnya unsur utama dalam pembentukan mataharidan juga planet raksasa gas terbesar : Jupiter dan Saturnus. Kecilnya rasio helium terhadap hidrogen membantu para ilmuwan memahami apa yang ada di dalam masing-masing planet, dan bagaimana pengaruhnya.
Pada tahun 2006, sekelompok ilmuwan yang dipimpin oleh Daniel Gautier dari Observatorium Paris mencatat bahwa pengukuran tahun 1980 oleh pesawat ruang angkasa Voyager tidak masuk akal. Rasio helium-hidrogen  yang diperoleh adalah sebesar 0,034.
Pada saat itu, kelompok Gautier melakukan beberapa pengukuran okultasi radio di dekat khatulistiwa namun mendapat hasil yang berbeda. Pada pertengahan 2017 ini, rasio yang tepat masih belum diketahui.
5. Suara apa yang terdengar di Saturnus yang terekam oleh NASA?
Bunyi yang terekam oleh pesawat antariksa tanpa awak yang melintas di antara Saturnus dan cincinnya, Cassini, telah diterima oleh Bumi. Namun, suara misterius itu membuat ilmuwan sedikit kebingungan.
Ruang di antara Saturnus dengan cincinnya merupakan area yang ‘relatif bebas debu’. Hal itu membuat suara yang mirip dengan statis televisi itu membuat ilmuwan terkejut.
NASA memposting rekaman suara tersebut secara online, sehingga kita sebagai penduduk Bumi dapat mendengar suara dari Saturnus.
Wilayah di antara cincin dan Saturnus adalah ruangan kosong,” ujar Project Manager Cassini, Earl Maize, di Pasadena California, dikutip dari News.com.au. “Cassini akan tetap mengikuti perjalanan, sementara para ilmuwan mengamati mengapa tingkat debu di sana jauh lebih rendah dari perkiraan,” imbuh dia.
Suara cincin Saturnus tersebut sebenarnya adalah partikel debu yang bisa didengar oleh detektor pesawat angkasa luar. Pada akhir 2016 lalu, NASA merekam banyak suara partikel debu. Namun pada rekaman yang diambil pada April 2017 lalu, planet itu terdiam.
Harusnya planet tersebut dipenuhi dengan suara yang muncul dari debu yang memantul. Namun sebaliknya, suara tersebut terdengar lebih seperti statis dari layar TV dan suara decitan yang tak dapat dijelaskan. *sp